Langsung ke konten utama

Bagaimana Kalau Setelah Taubat Kembali Bermaksiat?

Setelah Taubat Kembali Bermaksiat, Bagaimana ini?
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Setiap muslim wajib menjauhkan dirinya dari maksiat-maksiat. Ia tundukkan jiwanya sekuat tenaga agar tidak menuruti nafsunya. Jangan sampai dirinya menjadi kuda tunggangan syahwat dan hawa nafsunya.
Harus disadari juga, syetan selalu menggoda manusia untuk berbuat maksiat. Maka kewajibannya adalah tidak menuruti godaan syetan dan berlindung kepada Allah saat merasakan godaan tersebut.
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200)

Ketika seorang muslim telah terjerumus ke dalam maksiat, ia wajib bertaubat kepada Allah dengan taubatan Nasuha. Yaitu kembali dari perbuatan dosa kepada ketaatan. Bentuknya dengan menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan, bertekad tidak akan lagi mau kembali kepada maksiat tersebut, meminta ampunnan kepada Allah, dan mengganti perbuatan dosa itu dengan kebaikan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha (yang semurni-murninya).” (QS. Al-Tahrim: 8)

Al-Imam Ibnu katsir Rahimahullah menulik pendapat ulama tentang taubat ini, “Taubat nasuha adalah meninggalkan dosa di saat itu juga, menyesali dosa yang telah diperbuat di masa lalu, bertekad tidak mengerjakannya di masa mendatang. Kemudian jika dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain, ia kembalikan kepadanya dengan cara yang baik.
” Bagaimana kalau seseorang yang sudah bertaubat lalu kembali melakukan dosa lagi?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata,
ولو تاب العبد ثُم عاد إلى الذنب، قَبِل الله توبته الأولى، ثُمَّ إذا عاد استحق العقوبة، فإن تاب تابَ الله عليه أيضًا

“Kalau seorang hamba bertaubat lalu kembali melakukan dosa, Allah terima taubatnya yang pertama. Kemudian jika ia kembali berdosa, ia berhak mendapat hukuman. Jika ia bertaubat, Allah terima taubatnya lagi.”

Ibnu Taimiyah melanjutkan penjelasannya, bahwa seorang muslim yang telah bertaubat lalu kembali lagi melakukan dosa tidak boleh nekad dengan terus menerus melakukan dosa tersebut. Tapi ia harus selalu bertaubat walau ia kembali terjerumus maksiat 100 kali dalam sehari. Diriwayatkan dari Ali, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda,
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ الْمُفَتَّنَ التَّوَّابَ

“Sesungguhnya Allah menyukai seorang hamba yang terpedaya berbuat dosa lagi suka bertaubat.” (HR. Ahmad meriwayatkannya secara tunggal)

Dalam hadits lain, “tidak ada dosa kecil jika dikerjakan terus menerus, dan tidak ada dosa besar jika beristighfar.” Dalam hadits lain, “tidaklah terus menerus melakukan dosa orang yang beristighfar, walau ia kembali mengulanginya 100 seratus kali dalam sehari.”
Maksud istighfar di sini adalah istighfar dengan hati yang disertai lisan. Sesungguhnya orang yang bertaubat seperti orang yang tak punya dosa. Sebagaimana disebutkan di hadits lain, “tidak ada dosa besar yang disertai istghfar dan tidak ada dosa kecil yang dilakukan terus menerus.”
Jika seseorang melakukan dosa kecil terus menerus tanpa henti maka dosa kecil itu akan menjadi dosa besar. Jika bertaubat darinya maka pasti diampuni. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.” (QS. Ali Imran: 135)

Apabila bertaubat dengan taubat yang benar pasti diampuni dosa-dosanya. Jika ia kembali berbuat dosa maka ia wajib bertaubat lagi. Jika ia bertaubat, pasti Allah terima lagi taubatnya.
Siapa yang telah bermaksiat, segeralah taubat dengan taubat nasuha yag salah satunya bertekad tidak akan lakukan maksiat itu kembali. Jika ia terjerumus lagi ke maksiat, maka ia wajib bertaubat lagi. Jangan berputus asa dari ampunan Allah dan rahmat-Nya. Wallahu A’lam


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keutamaan Akal Dan Keistimewaanya

Akal adalah nikmat paling agung pengaruhnya setelah nikmat iman. Semua bukti dan fakta menjadi saksi, bahwa wahyu Allâh Azza wa Jalla dan akal manusia adalah selaras dan serasi. Banyak nash syar’i yang menunjukkan keharusan menggunakan akal untuk bertafakkur, dalam rangka untuk mengenal Allâh Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya dengan menunaikan konsekuensinya. Tidak akan sempurna agama seseorang sampai akalnya sempurna. Akal tanpa agama akan sesat, dan beragama tanpa akal adalah tangga menuju pemahaman yang salah dan perilaku buruk. Dan seringkali itu mencoreng wajah Islam yang murni! Al-Hasan al-Bashri rahimahullah bila diberitahukan tentang seseorang yang shalih, ia akan bertanya, “Bagaimana akalnya? Agama seorang hamba tidak akan sempurna sama sekali hingga akalnya sempurna.” Apa yang diucapkan al-Hasan al-Bashri rahimahullah bisa kita kembalikan pada firman Allâh Azza wa Jalla : وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ Dan Allâh menimpakan adzab kepada ...

Profil Dimas Febrian

S Selamat datang, Di blog saya yg cukup sederhana ini. Silahkan mampir di akun medsos saya untuk menambah silahturahmi : Fb Klik Di Sini   Terima kasih sudah mampir. Salam Sukses Dimas Febrian

Membersihkan Hati Dari fitnah

MEMBERSIHKAN HATI DARI FITNAH SYAHWAT DAN FITNAH SYUBHAT Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : تُـعْـرَضُ الْـفِـتَـنُ عَلَـى الْـقُـلُـوْبِ كَالْـحَصِيْـرِ عُـوْدًا عُوْدًا ، فَـأَيُّ قَـلْبٍ أُشْرِبَـهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْـتَـةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَـلْبٍ أَنْـكَـرَهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْتَـةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّىٰ تَصِيْـرَ عَلَـىٰ قَـلْبَيْـنِ : عَلَـىٰ أَبْـيَـضَ مِثْـلِ الصَّفَا ، فَـلَا تَـضُرُّهُ فِـتْـنَـةٌ مَـا دَامَتِ السَّمٰـوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُـرْبَادًّا ، كَالْكُوْزِ مُـجَخِّـيًا : لَا يَعْرِفُ مَعْرُوْفًـا وَلَا يُـنْـكِرُ مُنْكَـرًا ، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ. Fitnah-fitnah menempel dalam lubuk hati manusia sedikit demi sedikit bagaikan tenunan sehelai tikar. Hati yang menerimanya, niscaya timbul bercak (noktah) hitam, sedangkan hati yang mengingkarinya (menolak fitnah tersebut), niscaya akan tetap putih (cemerlang). Sehingga hati menjadi dua : yait...