Langsung ke konten utama

ANCAMAN BAGI YANG MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH

Sebagaimana ALLAH SWT telah menjanjikan berbagai nikmat kepada mereka yang menunaikan perintah-perintah-NYA, ALLAH SWT juga mengancam dengan murka-NYA kepada mereka yang mengabaikan perintah-perintah-NYA. Mestinya seorang hamba hanya menerima teguran atas kekeliruannya ( karena sifat seorang hamba ialah mentaati perintah bukan mengabaikan perintah ) lalu apa arti kenikmatan bagi seorang hamba ? dan jika seorang hamba dihukum karena melanggar aturan-NYA ,sebesar apapun adzab yang ditimpakan kepadanya itu sudah pada tempatnya, sebab adakah dosa yang lebih besar daripada mengingkari perintah tuannya.
Mestinya tidak perlu ada peringatan dan teguran secara khusus terlebih dahulu, tetapi karena kasih sayang ALLAH SWT dan Rasul-NYA kepada kita, dengan berbagai cara mereka telah mengingatkan kerugian yang akan menimpa kita.
Dari Ibnu Abbas r.huma, Rasulullah saw bersabda ,” barangsiapa mendengar adzan dan tidak memenuhinya tanpa ada udzur yang menghalanginya maka shalat yang dikerjakannya tidak akan diterima”.para sahabat bertanya, “apakah udzurnya ?”. Beliau menjawab, “takut atau sakit “. ( Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah- At-Targhib ) Maksud tidak akan diterima shalatnya, meskipun kewajibannya telah tertunaikan. Inilah makna hadits-hadits yang menyatakan bahwa shalatnya tidak sah, sebab sifat shalat yang mestinya ada dan sebagai penyebab kehormatan tidak terdapat dalam shalatnya.
Inilah pendapat imam kita. Sedangkan para sahabat dan sebagian tabi’in berpendapat bahwa meninggalkan shalat berjamaah tanpa udzur adalah haram. Oleh sebab itu, shalat berjamaah itu fardhu sehingga banyak ulama yang berpendapat bahwa meninggalkan shalat berjamaah tidak sah shalatnya. Sedangkan mdzhab Hanafi berpendapat sah shalatnya, tetapi ia berdosa karena meninggalkan jamaah.Ibnu Abbas r.huma meriwayatkan sebuah hadits bahwa ia berdosa karena mengingkari ALLAH dan Rasul-NYA. Ia berkata “barangsiapa mendengar adzan ,lalu ia tidak shalat berjamaah, berarti ia tidak menghendaki kebaikan dan tidak dikehendaki mendapat kebaikan”.
Abu hurairah.r.a. berkata, “ barangsiapa mendengar adzan lalu tidak shalat berjamaah, maka lebih baik dituangkan timah mendidih ke lubang telinganya” Dari Mu’adz bin Anas r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda, “ kebatilan ( yaitu kekufuran dan kemunafikan ) terbesar adalah orang yang mendengar seruan muadzin untuk shalat, tetapi ia tidak memenuhinya”.( Ahmad, Thabrani-At-Targhib )
Sungguh keras ancaman dan celaan dalam hadits ini, sehingga perbuatan seperti itu digolongkan sebagi kufur dan munafik. Seolah-olah, hal itu tidak mungkin terjadi pada diri seorang muslim.dinyatakan dalam hadits lain.” Cukuplah seseorang itu ditimpa keburukan dan kerugian jika ia mendengar adzan tetapi tidak memenuhinya “. Sulaiman bin Abi Hatsmah r.a. seorang sahabat yang disegani, lahir pada zaman Rasulullah saw. Ketika itu ia masih terlalu muda untuk meriwayatkan hadits-hadits yang didengarnya. Pada zaman khalifah Umar r.a., ia ditugaskan untuk mengawasi pasar. Pada suatu hari , Umar r.a. tidak menemuinya dalam shalat jamaah subuh, maka Umar r.a menemui ibunya dan bertanya , mengapa Sulaiman tidak datang shalat subuh . jawab ibunya “ tadi malam ia shalat sunnat semalam suntuk sehingga tertidur”. Umar r.a. bertanya “aku lebih menyukai shalat subuh dengan berjamaah daripada shalat sunnat semalam suntuk”.
Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah saw bersabda ,”sungguh aku ingin menyuruh para pemuda agar mengumpulkan beberapa ikat kayu bakar untukku ,lalu kudatangi orang-orang yang shalat di dirumahnya tanpa udzur, dan kubakar rumah-rumah mereka”. ( Muslim, Abu Dawud, Ibnu majah dan Tirmidzi ) Rasulullah saw sangat menyayangi umatnya sehingga beliau tidak tega melihat umatnya ditimpa kesulitan sekecil apapun.
Namun hadits diatas dengan jelas menunjukkan betapa marahnya beliau sehingga berniat membakar rumah-rumah mereka yangg mengerjakan shalat fardhu di rumahnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keutamaan Akal Dan Keistimewaanya

Akal adalah nikmat paling agung pengaruhnya setelah nikmat iman. Semua bukti dan fakta menjadi saksi, bahwa wahyu Allâh Azza wa Jalla dan akal manusia adalah selaras dan serasi. Banyak nash syar’i yang menunjukkan keharusan menggunakan akal untuk bertafakkur, dalam rangka untuk mengenal Allâh Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya dengan menunaikan konsekuensinya. Tidak akan sempurna agama seseorang sampai akalnya sempurna. Akal tanpa agama akan sesat, dan beragama tanpa akal adalah tangga menuju pemahaman yang salah dan perilaku buruk. Dan seringkali itu mencoreng wajah Islam yang murni! Al-Hasan al-Bashri rahimahullah bila diberitahukan tentang seseorang yang shalih, ia akan bertanya, “Bagaimana akalnya? Agama seorang hamba tidak akan sempurna sama sekali hingga akalnya sempurna.” Apa yang diucapkan al-Hasan al-Bashri rahimahullah bisa kita kembalikan pada firman Allâh Azza wa Jalla : وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ Dan Allâh menimpakan adzab kepada ...

Profil Dimas Febrian

S Selamat datang, Di blog saya yg cukup sederhana ini. Silahkan mampir di akun medsos saya untuk menambah silahturahmi : Fb Klik Di Sini   Terima kasih sudah mampir. Salam Sukses Dimas Febrian

Membersihkan Hati Dari fitnah

MEMBERSIHKAN HATI DARI FITNAH SYAHWAT DAN FITNAH SYUBHAT Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : تُـعْـرَضُ الْـفِـتَـنُ عَلَـى الْـقُـلُـوْبِ كَالْـحَصِيْـرِ عُـوْدًا عُوْدًا ، فَـأَيُّ قَـلْبٍ أُشْرِبَـهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْـتَـةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَـلْبٍ أَنْـكَـرَهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْتَـةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّىٰ تَصِيْـرَ عَلَـىٰ قَـلْبَيْـنِ : عَلَـىٰ أَبْـيَـضَ مِثْـلِ الصَّفَا ، فَـلَا تَـضُرُّهُ فِـتْـنَـةٌ مَـا دَامَتِ السَّمٰـوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُـرْبَادًّا ، كَالْكُوْزِ مُـجَخِّـيًا : لَا يَعْرِفُ مَعْرُوْفًـا وَلَا يُـنْـكِرُ مُنْكَـرًا ، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ. Fitnah-fitnah menempel dalam lubuk hati manusia sedikit demi sedikit bagaikan tenunan sehelai tikar. Hati yang menerimanya, niscaya timbul bercak (noktah) hitam, sedangkan hati yang mengingkarinya (menolak fitnah tersebut), niscaya akan tetap putih (cemerlang). Sehingga hati menjadi dua : yait...