Langsung ke konten utama

Keimanan seorang kafir kepada Nabi Muhammad SAW

Semua orang tahu siapa Fir'aun, betapa kafirnya dia sehingga mengaku dirinya sebagai tuhan, Hamman adalah perdana menterinya, dan Ubay bin Khalaf adalah musuh besar Islam dari Kaum musyrikin Makkah. Sebelum hijrah, Ubay bin Khalaf pernah berkata kepada Rasulullah saw., “Aku memelihara seekor kuda dan aku telah memberinya banyak makanan, dengan mengendarainya aku akan membunuhmu di kemudian hari.” (Na'udzubillahi min dzalik). Rasulullah saw. Pun berkata kepadanya, “Insya Allah, saya yang akan membunuhmu.” Ketika terjadi perang Uhud, dia mencari-cari Rasulullah sambil berkata, “Apabila pada hari ini Muhammad lolos dariku, maka akulah yang akan celaka!” kemudian dia menuju Rasulullah saw. Untuk menyerang beliau. Para sahabat ingin melempar Ubay bin Khalaf dengan tombak dari jauh.
Tetapi Rasulullah saw. Berkata, “Biarkan dia mendekat.” ketika dia telah mendekat, Rasulullah saw. Mengambil sebilah tombak dari seorang sahabat lalu melemparkannya kepada Ubay bin Khalaf, sehingga lehernya tergores sedikit, akibat lemparan itu dia terjatuh dari kudanya. Dengan jatuh bangun, dia berlari menuju pasukannya sambil berteriak, “Demi Tuhan, Muhammad telah membunuhku.” Orang-orang kafir berusaha menenangkannya bahwa itu hanyalah sebuah goresan saja, tidak perlu dikhawatirkan. Namun dia berkata, “Muhammad pernah berkata, bahwa dia akan membunuhku.' Demi Tuhan, seandainya dia hanya meludahiku saja, pasti aku akan mati.” diceritakannya bahwa suara teriakannya bagaikan teriakan lembu jantan. Abu Sufyan yang ketika itu sebagai panglima perang berkata dengan nada mempermalukan, “Dengan sedikit goresan saja engkau berteriak-teriak.” Ubay bin Khalaf berkata, “Apakah kamu tidak tahu siapa yang melempar aku? Ini adalah lemparan Muhammad, saya sangat takut. Demi Latta dan Uzza, Jika penderitaanku ini dibagikan kepada seluruh penduduk Hijaz, niscaya mereka akan binasa.
Muhammad pernah berkata kepadaku, 'Aku akan membunuhmu.' ketika dia berkata begitu, aku yakin bahwa aku akan mati ditangannya dan tidak akan lolos darinya. Seandainya dia meludahiku sedikit saja setelah dia mengatakan demikian, maka pasti aku akan binasa.” Akhirnya Ubay bin Khalaf meninggal dunia sehari sebelum tiba di Makkah.
Peristiwa ini adalah pelajaran bagi kita. Seorang kafir yang kuat dan musuh besar Islam saja begitu yakin dengan perkataan Rasulullah., sehingga dia tidak merasa ragu sedikitpun tentang kematiannya ditangan Rasulullah saw., Namun kita sebagai manusia yang mengimani kenabian dan kebenaran beliau, meyakini sabda-sabda beliau, mengaku cinta kepada beliau, dan bangga sebagai umat beliau, berapa banyak sabda-sabda beliau yang kita amalkan? Juga hal-hal yang diberitakan oleh beliau seperti azab, berapa banyak yang kita takuti? Hal ini perlu diperhatikan dan direnungkan oleh setiap orang.
Dalam kitab az Zawajir, Ibnu Hajar rah.a. Telah menceritakan tentang Fir'aun, Qarun, dan lain-lain. Dia menuliskan bahwa orang yang melalaikan shalat akan dibangkitkan bersama Fir'aun , Qarun dan Hamman. Alasannya adalah, karena adanya kesamaan alasan-alasan yang ada pada diri mereka. Jika seseorang meninggalkan shalat dengan alasan sibuk karena banyaknya harta benda, maka dia akan dibangkitkan bersama Qarun. Jika alasannya karena sibuk dalam pemerintahan dan kekuasaan, maka akan dibangkitkan bersama Fir'aun. Jika penyebabnya adalah jabatan, maka dia akan dibangkitkan bersama Hamman. Dan jika seseorang meninggalkan shalat karena sibuk dengan perdagangan, maka dia akan dibangkitkan bersama Ubay bin Khalaf.
Apabila kita dibangkitkan bersama-sama orang seperti itu, maka kita akan menerima berbagai macam azab seperti yang diterangkan oleh banyak hadits. Walaupun derajat keshahihan hadits-hadits itu telah banyak dibicarakan, namun tidak ada keraguan mengenainya bahwa azab jahanam adalah azab yang paling pedih. Penting juga untuk diingat, bahwa pada suatu hari nanti disebabkan keimanannya, seseorang akan dikeluarkan dari Neraka Jahanam. Dan mereka (Fir'aun dan yang seperti itu) akan tinggal dineraka Jahanam selama-lamanya. Namun untuk sampai bisa keluar dari neraka Jahanam, berapa lama kita akan berada didalamnya? Tidak ada yang mengetahui berapa ribu tahun akan disiksa didalamnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keutamaan Akal Dan Keistimewaanya

Akal adalah nikmat paling agung pengaruhnya setelah nikmat iman. Semua bukti dan fakta menjadi saksi, bahwa wahyu Allâh Azza wa Jalla dan akal manusia adalah selaras dan serasi. Banyak nash syar’i yang menunjukkan keharusan menggunakan akal untuk bertafakkur, dalam rangka untuk mengenal Allâh Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya dengan menunaikan konsekuensinya. Tidak akan sempurna agama seseorang sampai akalnya sempurna. Akal tanpa agama akan sesat, dan beragama tanpa akal adalah tangga menuju pemahaman yang salah dan perilaku buruk. Dan seringkali itu mencoreng wajah Islam yang murni! Al-Hasan al-Bashri rahimahullah bila diberitahukan tentang seseorang yang shalih, ia akan bertanya, “Bagaimana akalnya? Agama seorang hamba tidak akan sempurna sama sekali hingga akalnya sempurna.” Apa yang diucapkan al-Hasan al-Bashri rahimahullah bisa kita kembalikan pada firman Allâh Azza wa Jalla : وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ Dan Allâh menimpakan adzab kepada ...

Profil Dimas Febrian

S Selamat datang, Di blog saya yg cukup sederhana ini. Silahkan mampir di akun medsos saya untuk menambah silahturahmi : Fb Klik Di Sini   Terima kasih sudah mampir. Salam Sukses Dimas Febrian

Membersihkan Hati Dari fitnah

MEMBERSIHKAN HATI DARI FITNAH SYAHWAT DAN FITNAH SYUBHAT Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : تُـعْـرَضُ الْـفِـتَـنُ عَلَـى الْـقُـلُـوْبِ كَالْـحَصِيْـرِ عُـوْدًا عُوْدًا ، فَـأَيُّ قَـلْبٍ أُشْرِبَـهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْـتَـةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَـلْبٍ أَنْـكَـرَهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْتَـةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّىٰ تَصِيْـرَ عَلَـىٰ قَـلْبَيْـنِ : عَلَـىٰ أَبْـيَـضَ مِثْـلِ الصَّفَا ، فَـلَا تَـضُرُّهُ فِـتْـنَـةٌ مَـا دَامَتِ السَّمٰـوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُـرْبَادًّا ، كَالْكُوْزِ مُـجَخِّـيًا : لَا يَعْرِفُ مَعْرُوْفًـا وَلَا يُـنْـكِرُ مُنْكَـرًا ، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ. Fitnah-fitnah menempel dalam lubuk hati manusia sedikit demi sedikit bagaikan tenunan sehelai tikar. Hati yang menerimanya, niscaya timbul bercak (noktah) hitam, sedangkan hati yang mengingkarinya (menolak fitnah tersebut), niscaya akan tetap putih (cemerlang). Sehingga hati menjadi dua : yait...